Thursday, 27 February 2014

DALIL PERAYAAN MAULID MENURUT AL-QURAN

FIRMAN ALLAH SWT.
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58)
Katakanlah: “Dengan Karunia Allah Dan Rahmat-Nya, Hendaklah Dengan Itu Mereka Bergembira. Karunia Allah Dan Rahmat-Nya Itu Adalah Lebih Baik Dari Apa Yang Mereka Kumpulkan”.
(Q.S. YUNUS : 58)
Segala puji hanya milik Allah. Rahmat dan sejahtera kepada Rasulullah dan para sahabatnya sekalian.
Yang menjadi tinjauan dan pembahasan pada ayat tersebut diatas adalah : kata-kata “Karunia Allah” dan “Rahmat-Nya” dan juga perintah bergembiralah karena keduanya.
Apa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” dan “Rahmat Allah” pada ayat yang tersebut diatas?
Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusiy dalam tafsir Beliau Ruhul Ma’aniy Fi Tafsir Al-Quran Wa Sab’a Matsaniy menjelaskan ada 5 penafsiran tentang makna kalimat tersebut, diantaranya adalah: Telah mengeluarkan oleh Abu Syaikh dari Ibnu ‘Abbas RA: bahwa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” pada ayat tersebut diatas adalah Ilmu, dan yang dimaksud dengan “Rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW. Dan telah mengeluarkan oleh Al-Khathib dan Ibnu ‘Asakir: bahwa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” pada ayat tersebut diatas adalah Nabi Muhammad SAW, dan yang dimaksud dengan “Rahmat Allah” adalah Sayyidina ‘Ali.
Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan dalam tafsir beliau yang bernama Tafsir Al-Bahar Al-Muhith menjelaskan ada 15 penafsiran tentang makna kalimat tersebut, diantaranya adalah: “Telah berkata Ibnu ‘Abbas pada hadits yang diriwayatkan oleh Adh-Dhihak bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” adalah ilmu, dan yang dimaksud dengan “rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW.
Ibnu Jauziy dalam tafsir beliau Zaada Al-Maisir menjelaskan ada 8 penafsiran tentang makna kalimat tersebut, diantaranya adalah : bahwa pendapat yang ketiga bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” adalah ilmu, dan yang dimaksud dengan “rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW atas dasar riwayah Adh-Dhihak dari Ibnu ‘Abbas.
Imam Tusturiy dalam tafsir beliau Tafsir Tustury memastikan hanya satu penafsiran yaitu : bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah adalah Tauhid, dan yang dimaksud dengan “rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW.
Al-Qadhi Abu Muhammad dalam tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz karya Ibnu ‘Athiyyah Al-Maharibiy berkata : Tiada jalan bagiku untuk menentukan satu penafsiran dari sejumlah penafsiran yang ada kecuali bahwa sesuatu itu bersandar kepada Nabi SAW.
Namun Abu Syaikh dari Ibnu ‘Abbas dalam menentukan bahwa yang dimaksud dengan “Karunia Allah” pada ayat tersebut diatas adalah Ilmu, dan yang dimaksud dengan “Rahmat Allah” adalah Nabi Muhammad SAW beliau berdalil dengan surat Al-Anbiya : 107 yang artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana dijelaskan oleh ‘Abdurrahman bin Abubakar Jalaluddin As-Suyuthiy dalam tafsir beliau Ad-durrul Mantsur Fi Takwil Bil Ma’tsur.
Walaupun hadits-hadits dan pendapat-pendapat diatas mungkin bisa dianggap lemah dengan berbagai pandangan, tinjauan, kajian dan alasan, namun ada satu hal yang tidak bisa ditolak oleh umat yang patuh kepada Al-Quran bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat, bahkan rahmat bagi semesta alam. Kenapa hal ini tidak bisa ditolak karena ini termaktub jelas dalam Al-Quran surat Al-Anbiya : 107 yang artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Jika kata “Rahmat” yang ada dalam ayat diatas bisa ditafsirkan dengan segala bentuk rahmat sebagaimana yang ada dalam seluruh tafsir maka adakah larangan jika kata “Rahmat” itu ditafsirkan dengan Nabi Muhammad SAW? Bukankah beliau adalah rahmat bagi semesta alam?
Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat bagi semesta alam sebagaimana tersebut dalam QS. Al-Anbiya : 107 maka bergembira dengan kehadiran dan kelahiran Beliau adalah diperintahkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya “HENDAKLAH DENGAN ITU MEREKA BERGEMBIRA” sebagaimana pada QS. Yunus : 58.
Lalu bagaimana cara bergembira terhadap kehadiran dan kelahiran Nabi Muhammad SAW?
Apabila tidak datang dalil khusus yang menguraikan cara bergembira tersebut maka berpulanglah caranya kepada masing-masing individu, waktu dan tempat. Boleh saja dengan membaca Al-Quran, mengerjakan shalat sunat, berpuasa, bersedekah, membaca shalawat, santuni anak yatim, beri makan fakir miskin, sambung tali silaturrahmi, berzikir, bercerita tentang sejarah yang berhubungan dengan agama dan pribadi Nabi dan segala macam kebaikan lainnya yang masih terpayungi oleh payung hukum dan dalil agama.
Dalam Kitab I’anah ath-Thalibin Karya ‘Allamah Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyaathiy yang dimasyhurkan dengan nama Sayyid Bakri. Jilid III, Hal. 413-415 (Kitab Maktabah Syamilah), disebutkan: “Didapatkan dalam Fatawi al-Hafidl as-Suyuthiy pada BAB WALIMAH, ditanyakan kepada Beliau daripada amal Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal, apa hukumnya dalam tinjauan syara’?. Apakah perbuatan itu dipuji atau dicela?. Apakah diberikan pahala kepada orang yang melakukannya atau tidak?. Beliau berkata: “Jawaban yang ada pada saya adalah bahwa sungguh dasar amal perayaan Maulid adalah berhimpunnya manusia, membaca apa yang mudah dari Al-Quran, membaca riwayat hadits yang datang pada permulaan pekerjaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, membaca riwayat tentang tanda-tanda yang terjadi pada kelahiran Beliau, lalu menuju tempat hidangan yang memakan oleh mereka akan makanan, dan tidak lebih dari yang demikian itu, maka itu adalah sebagian dari bid’ah yang bagus (hasanah) karena padanya bagian dari membesarkan derajat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menampakkan rasa senang dan gembira dengan kelahiran Nabi yang mulia. Ash-Shakhawi berkata: amal maulid Nabi sudah terjadi pada kurun yang ketiga. Ibnu Jauziy berkata: sebagian dari keistimewaan merayakan hari maulid Nabi adalah diberikan oleh Allah keamanan dalam negeri pada tahun tersebut dan digembirakan dengan tercapai cita dan harapan untuk masa yang akan datang. Yang pertama melakukannya (menurut Ibnu Jauziy) adalah Raja Mudhaffar.
Dan kenapa bergembiranya hanya pada bulan-bulan tertentu?
Karena Abu Qatadah Al-Anshari meriwayatkan bahwa kepada Nabi SAW. pernah ditanya mengenai puasa yang beliau lakukan pada hari Senin. Baginda menjawab, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu.”
Berdasarkan kepada hadits tersebut diatas bahwa Nabi SAW menaruh perhatian khusus pada hari kelahiran beliau dan bersyukur kepada Allah SWT dengan berpuasa pada hari itu yang merupakan satu bentuk ibadah. Sebagaimana Nabi SAW. telah memberi perhatian khusus pada hari tersebut dengan berpuasa, maka ibadah dalam bentuk apa saja yang masih sesuai dengan nash agama untuk memberi perhatian khusus atas hari tersebut dapat pula dibenarkan. Meskipun bentuk ibadahnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama yaitu bergembira dengan kelahiran baginda. Oleh karena itu, berpuasa, memberi makan fakir miskin, berkumpul untuk melantunkan pujian kepada Nabi saw. atau berkumpul untuk mengingat perilaku dan budi pekerti baiknya, semuanya dapat dipandang sebagai cara menaruh perhatian khusus pada hari tersebut.
Demikian, dan marilah kita kembali kepada satu semboyan yang termaktub dalam Al-Quran “AL-HAQQU AHAQQU AN YUTTABA’ (QS. YUNUS : 35)”. Semoga dapat berguna bagi kita semua, amin ya rabbal ‘alamin.
Rabbi An Yahdiyani Sawa-as- Sabiil (Al-Qashash : 22)

KEUTAMAAN UMAT MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

KEUTAMAAN UMAT MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM
  1. DIALOG NABI MUSA DENGAN ALLAH
    Riwayat yang diterima dari Maqatil bin Sulaiman
    1. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Itu Bisa Memberi Dan Menerima Syaf’at, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    2. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Dosa Mereka Dihapuskan Oleh Shalat 5 Waktu, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    3. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Membunuh Oleh Mereka Akan Kesesatan Sehingga Mereka Membunuh Pengikut Dajjal, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    4. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Bersuci Dengan Air dan Tanah, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    5. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mengambil Sedekah dan Memakannya, Padahal Adalah Umat Dahulu Mereka Membakarnya Dengan Api, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    6. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Apabila Sesorang Dari Mereka Bercita-Cita Untuk Melakukan Satu Kebaikan, Lalu Mereka Tidak Melakukannya Maka Dituliskan Baginya Satu Pahala Kebaikan, Dan Apabila Mereka Melakukannya Maka Ditulis Baginya 10 Bahkan 700 Ganda Pahala Bahkan Lebih Banyak Dari Itu. Bilamana Mereka Bercita-Cita Melakukan Satu Kejahatan Maka Tidak Ditulis Suatu Apapun, Tetapi Bila Kejahatan Itu Dilakukannya Maka Dituliskan Baginya Satu Kesalahan, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    7. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mana Ada 70.000 Dari Mereka Yang Masuk Surga Tanpa Hisab, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
      Ditambahkan dalam Riwayat Mu’ammar dari Qatadah
    8. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yaitu Sebaik-baik Umat Yang Menyeru Kepada Yang Ma’ruf dan Mencegah dari Yang Mungkar, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    9. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Adalah Umat Terakhir Tetapi Mereka Yang Pertama dan Utama Pada Hari Kiamat, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
    10. Nabi Musa ‘Alaihissalam berkata; Ya Tuhanku! Aku dapati pada papan (lawhu) ada Satu Umat Yang Mereka Bersuci Dengan Air dan Tanah, jadikanlah mereka itu umatku. Firman Allah; Itu Adalah Umat Muhammad.
          Sehingga Nabi Musa berkeinginan agar menjadi bahagian dari umat Nabi Muhammad, lalu Allah berfirman; Wahai Musa! Engkau telah Aku pilih diatas segala manusia dengan risalahku dan kalamku, maka ambil saja apa yang telah aku berikan dan jadilah engkau daripada orang yang bersyukur.
  2. SABDA NABI ADAM ‘ALAIHISSALAM
    Bahwa sesungguhnya Allah SWT memberikan kepada umat Muhammad SAW 4 kemulian yang tidak diberikannya kepadaku;
    1. Taubatku diterima mesti di Mekkah, sedangkan umat Muhammad bertaubat dimana saja dan taubatnya diterima.
    2. Aku berpakaian, tetapi tatkala aku berbuat maksiat aku jadi telanjang, sedangkan umat Muhammad melakukan maksiat dalam keadaan telanjang tetapi masih diizinkan berpakaian oleh Allah.
    3. Aku, tatkala melakukan maksiat dipisahkan dari isteriku, sedangkan umat Muhammad melakukan maksiat tetapi tidak dipisahkan dari isterinya.
    4. Aku, melakukan maksiat didalam surga maka aku dikeluarkan, sedangkan umat Muhammad melakukan maksiat diluar surga tetapi dimasukkan kedalam surga.
___________________________________
Sumber: Kitab Tanbihil Ghafilin Karya Syeikh Nasar bin Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandiy

DAJJAL & PENGARUHNYA TERHADAP WANITA

Dalam Hadits diterangkan bahwa Dajjal tidaklah kecil pengaruhnya terhadap kaum wanita. Kenyataan menunjukkan bahwa walaupun manusia mempunyai kesanggupan untuk berbuat baik, namun pelaksanaannya harus disertai dengan usaha keras seakan-akan harus mendaki puncak gunung. Tetapi tidak demikianlah halnya perbuatan buruk. Tanpa susah payah sedikitpun, manusia selalu siap dan tak segan-segan melakukan perbuatan yang merusak moral dan perbuatan biadab.
Celakanya pada dewasa ini Eropalah yang membuka pintu segala macam godaan berupa pergaulan bebas yang melebihi batas antara pria dan wanita. Adegan-adegan yang membangkitkan nafsu birahi, baik yang dipentaskan dalam panggung maupun di layar putih, menyebabkan tempat-tempat yang menggiurkan itu banyak dikunjungi orang, terutama para pemuda. Gambargambar cabul, tarian telanjang, pakaian wanita setengah tetanjang, semua kejahatan yang ditimbulkan oleh hidup berfoya-foya ini menyebabkan jiwa manusia cepat menjadi rusak. Rusak badannya, demikian pula rusak moralnya.
Meluncur ke bawah adalah lebih mudah daripada naik ke atas. Kejadian-kejadian tersebut buruk sekali pengaruhnya terhadap karakter bangsa kita sendiri. Perbuatan orang-orang Eropa yang tak pantas itu, makin lama makin dianggap tak menjijikkan lagi oleh bangsa kita. Pelacuran dan segala pendahuluannya tak memuakkan perasaan kita lagi. Perbuatan mesum ini, yang cepat sekali menjalarnya di kalangan kaum pria, kini mulai menjalar di kalangan kaum wanita.
Tepat sekali sabda Nabi SAW sbb: “Orang terakhir yang akan datang kepada Dajjal adalah kaum wanita.”
Memang sifat pemalu kaum wanita dapat lama bertahan menghadapi godaan Dajjal. Akan tetapi sekarang mereka sudah jatuh menjadi korban godaan Dajjal, dan sekalipun di negeri kita belum begitu memuncak seperti di Eropa, namun sekarang banyak wanita Timur yang mengucapkan selamat tinggal kepada kesopanan Islam dan berganti menggunakan kesopanan setengah-telanjang ala barat. Mereka bukan saja mengunjungi tempat-tempat hiburan, melainkan mereka sudah mulai ikut-ikutan berdansa.
Apabila pengaruh Dajjal sudah tak terkendalikan lagi dan kebudayaan Islam sudah diganti dengan kebudayaan Barat, pasti akan tiba saatnya bahwa di negara kita seperti halnya di negara Eropa, pelacuran dan segala pendahuluannya, bukan lagi hal yang memuakkan batin kita. Memang benar bahwa agama Islam tak menyuruh kaum wanitanya supaya menyendiri di kamar, dan memakai selubung seperti wanita di India atau di tanah Arab.
Sebaliknya Islam merigizinkan kaum wanita keluar untuk bekerja, berdagang, mendatangi suatu keperluan, memenuhi tugas sosial, ekonomi dan keperluan lainnya. Wanita dapat bekerja sebagai buruh, sebagai pedagang, dan sebagai prajurit. Akan tetapi dengan segala kebebasan bergerak, Islam tak mengizinkan pergaulan bebas antara pria dan wanita, demikian pula tak mengizinkan memakai pakaian yang tak sopan jika berkumpul bersama kaum pria dalam suatu keperluan. Kaum wanita dilarang mempertontonkan kemolekan tubuhnya yang dapat menggiurkan kaum pria. Cara-cara memperlihatkan kemolekan dan pergaulan-bebas inilah ciri-ciri khas Dajjal dalam pergaulan, yang buruk sekali pengaruhnya terhadap wanita Islam yang bermartabat tinggi.
Hubungan bebas yang tidak sah dan melebihi batas antara pria dan wanita, menyebabkan kejalangan, dan menyebabkan bertambahnya anak-anak yang tidak sah (anak-anak zina), dan ini adalah ciri khas kota-kota besar di Eropa dan Amerika. Dalam ru’yah Nabi Suci melihat hubungan sex yang tidak sah yang membuntuti materialisme: “Awas! Sebagian besar kawan dan pengikut Dajjal adalah kaum Yahudi dan anak-anak yang tidak sah.”
Sejumlah besar anak-anak zina ini dilindungi oleh undang-undang yang mengesahkan anak-anak itu. Misalnya, seorang wanita mengandung karena hubungan yang tidak sah, akan tetapi sebelum bayi lahir, mereka melangsungkan pemikahan, maka bayi itu dianggap sah. Sampai-sampai undang-undang itu begitu lunak, hingga apabila pria dan wanita yang berbuat mesum melangsungkan perkawinan di sembarang waktu, maka anak-anak yang dilahirkan sebelum perkawinan, semuanya dianggap sah.
Akan tetapi kendati undang-undang itu lunak sekali, namun di kota-kota Eropa (dan Amerika), masih terdapat banyak anak-anak yang tidak sah, sekalipun ditinjau dari undang-undang yang lunak ini. Bahkan anak-anak yang lahir dalam keadaan perang, diberi julukan sebagai “anak pahlawan”. Jika orang mau meninjau betapa merajalela pergaulan bebas antara pria dan wanita di Eropa dan Amerika, orang dapat meramalkan bahwa tak lama lagi penduduk daerah ini akan berpaling dari jalan benar dan kembali kepada kehidupan biadab bagaikan binatang, sepanjang mengenai hubungan sex antara pria dan wanita.
Tanda-tanda Dajjal lain lagi yang diuraikan dalam Hadits ialah bahwa wanita akan seperti pria, dan pria akan seperti wanita. Seperempat abad yang lalu, hal ini masih sukar dimengerti. Akan tetapi sekarang ramalan ini terjadi sungguh-sungguh, yakni bahwa wanita memakai cara-cara kaum pria, misalnya memotong rambut, memakai celana dan sebagainya, sedangkan kaum pria memakai cara-cara kaum wanita, misalnya berambut gondrong, memakai bedak, kalung, gelang dan sebagainya. Parobahan dalam hal kelakuan dan kebiasaan ini begitu jauh, hingga kadang-kadang sukar dibedakan antara wanita dan pria.
Sabda Nabi SAW: “Wanita akan nampak seperti pria dan pria akan nampak seperti wanita, ini terjadi sungguh-sungguh.
Salamun ‘Ala Man Ittaba’al Huda

KEUTAMAAN PERAYAAN MAULID

فَصْلٌ فِي بَيَانِ فَضْلِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قال ابو بكر الصديق رضي الله عنه (مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِي الْجَنَّة) وقال عمر رضي الله عنه (مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ) وقال عثمان رضي الله عنه (مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَ حُنَيْنٍ) وقال علي رضي الله عنه وكرّم الله وجهه (مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ سَبَبًا لِقِرَاءِتِهِ لا يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بِاْلإِيْمَانِ وَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ) وقال حسن البصريّ رضي الله عنه (وَدِدْتُ لَوْ كَانَ لِيْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقْتُهُ عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وقال جنيد البغداديّ قدّس الله سرّه (مَنْ حَضَرَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَّمَ قَدْرَهُ فَقَدْ فَازَ بِاْلإِيْمَانِ) وقال معروف الكرخيّ قدّس الله سرّه (مَنْ هَيَّأَ طَعَامًا ِلأَجْلِ قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَمَعَ إِخْوَانًا وَأَوْقَدَ سِرَاجًا وَلَبِسَ جَدِيْدًا وَتَعَطَّرَ تَعْظِيْمًا لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَشَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْفِرْقَةِ اْلأُوْلَى مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَكَانَ فِي أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ) وقال وحِيْد عصره وفرِيْد دهره الإمام فخر الدين الرّازيّ (مَا مِنْ شَخْصٍ قَرَأَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْحٍ أَوْ بُرٍّ أَوْ شَيْءٍ آَخَرَ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ إِلاَّ ظَهَرَتْ فِيْهِ الْبَرَكَةُ وَ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ وَصَلَ إِلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْمَأْكُوْلِ فَإِنَّهُ يَضْطَرِبُ وَلاَ يَسْتَقِرُّ حَتَّى يَغْفِرَ اللهُ لَآَكَلِهِ، وَاِنْ قُرِئَ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَآءٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْ ذَلِكَ الْمَآءِ دَخَلَ قَلْبَهُ أَلْفُ نُوْرٍ وَرَحْمَةٍ وَخَرَجَ مِنْهُ أَلْفُ غِلٍّ وَغِلَّةٍ وَلاَ يَمُوْتُ ذَلِكَ الْقَلْبُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ، وَمَنْ قَرَأَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى دَرَاهِمَ مَسْكُوْكَةٍ فِضَّةٍ كَانَتْ أَوْ ذَهَبًا وَخَلَطَ تِلْكَ الدَّرَاهِمَ بِغَيْرِهَا وَقَعَتْ فِيْهَا الْبَرَكَةُ وَلاَ يَفْتَقِرُ صَاحِبُهَا وَ لاَ تَفْرُغُ يَدُهُ بِبَرْكَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وقال الشافعي رحمه الله (مَنْ جَمَعَ لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِخْوَانًا وَهَيَّأَ طَعَامًا وَأَخْلَى مَكَانًا وَعَمِلَ إِحْسَانًا وَصَارَ سَبَبًا لِقِرَاءِتِهِ بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَيَكُوْنُ فِيْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ) وقال السِّرِّيُّ السَّقَطِيُّ قدّس الله سرّه (مَنْ قَصَدَ مَوْضِعًا يُقْرَأُ فَيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ قَصَدَ رَوْضَةَ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، لِأَنَّهُ مَا قَصَدَ ذَلِكَ الْمَوْضِعَ إِلاَّ لِمَحَّبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنَّةِ) وقال سلطان العارفين الإمام جلال الدين السُّيُوطي قدّس الله سرّه ونوَّر ضريحه، في كتابه المسمى بالوَسَائِلْ فِي شَرْحِ الشَّمَائِلْ (مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتَ أَوِ الْمَسِجْدَ أَوِ الْمَحَلَّةَ، وَصَلَّتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ، وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَمَّا الْمُطَوَّقُوْنَ بِالنُّوْرِ يَعْنِيْ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ وَعِزْرَائِيْلَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ عَلَى مَنْ كَانَ سَبَبًا لِقِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وقال أيضا: (مَا مِنْ مُسِلِمٍ قَرَأَ فِي بَيْتِهِ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وتعالى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالْحَرْقَ وَالْغَرْقَ وَاْلآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبَغْضَ وَالْحَسَدَ وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وَيَكُوْنُ فَي مَقْعَد صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ، فَمَنْ أَرَادَ تَعْظِيْمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْفِيْهِ هَذَا الْقَدْرُ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ تَعْظِيْمُ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ مَلَأْتَ لَهُ الدُّنْيَا فِي مَدْحِهِ لَمْ يُحَرَّكْ قَلْبُهُ فِي الْمَحَبَّةِ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِمَّنْ يُعَظِّمُهُ وَيَعْرِفُ قَدْرَهُ وَمِنْ أَخَصِّ خَآصِّ مُحِبِّيْهِ وَأَتْبَاعِهِ آمِيْنَ يَارَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
(نقل من الكتاب : النعمة الكبر على العالم في مولد سيد ولد آدم _ للإمام إبن حجر الهيتمي الشافعي)
PASAL: KEUTAMAAN PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Sayyidina Abubakar Shiddiq berkata : (Barangsiapa yang berinfaq satu dirham untuk membaca (kisah) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya orang tersebut kawan karibku didalam Surga)
Sayyidina ‘Umar bin Khaththab berkata : (Barangsiapa yang membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka sungguh orang tersebut telah menghidupkan agama Islam)
Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan : »Barangsiapa yang berinfaq satu dirham untuk membaca (kisah) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka seakan-akan orang tersebut telah syahid pada perang Badar dan perang Hunain«
Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib berkata : »Barangsiapa yang membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang tersebut menjadi penyebab terhadap bacaan kisah Maulid niscaya orang tersebut tidak keluar dari dunia ini kecuali bersama iman dan masuk surga dengan tiada hisab«
Imam Hasan Bashri: »Aku berkeinginan jika aku memiliki emas sebesar gunung Uhud maka akan aku infaqkan untuk membaca kisah Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam «
Syaikh Junaidi Al-Baghdadi berkata : »Barangsiapa yang hadir pada acara Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan membesarkan (mengagungkan) kemuliaannya maka sungguh kemenanganlah ia dengan iman«
Syaikh Ma’ruf Al-Kurkhiy berkata : »Barangsiapa yang mempersiapkan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian karena membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya Allah mengumpulkan orang tersebut pada hari kiamat bersama golongan yang pertama dari para Nabi-Nabi, dan orang tersebut berada pada setinggi-tinggi tempat yang tinggi «
Imam Fakhruddin Ar-Raziy berkata : »Tiada seseorang yang membacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas yang asin atau gandum atau sesuatu yang lain dari yang bisa dimakan kecuali nyata padanya keberkatan. Dan pada segala sesuatu yang sampai makanan tersebut kepadanya maka sesungguhnya makanan tersebut bergoncang dan tiada tetap sehingga Allah mengampuni dosa orang-orang yang makan makanan tersebut. Dan jika dibacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas air maka siapa yang minum air tersebut niscaya telah masuk dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat Allah, keluar daripadanya seribu dendam dan dengki. Dan tiada mati hatinya pada hari yang akan mati semua hati. Dan barangsiapa yang membaca Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas dirham yang ditempa/cetak perak ataupun emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lain niscaya jatuh pula berkat pada yang lainnya, dan pemiliknya tiada faqir dan tiada bertangan hampa dengan berkat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam «
Imam Syafi’i berkata : »Barangsiapa yang mengumpulkan saudara-saudaranya untuk Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan mempersiapkan makanan, menghiasi tempat, melakukan yang baik, dan jadilah ia sebagai penyebab pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya Allah membangkitkannya pada hari kiamat bersama orang-orang Shiddiq, orang Syahid dam orang Shalih. Dan adalah orang tersebut dalam surga yang penuh nikmat «
Syaikh As-Sirriy Saqathiy berkata : »Barangsiapa yang menuju suatu tempat yang padanya dibacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka sungguh ia menuju satu kebun dari kebun-kebun surga, karena sesungguhnya tiada seseorang yang menuju tempat tersebut kecuali karena kecintaannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Barangsiapa yang mencintaiku adalah ia bersamaku didalam surga«
Sulthan ‘Arifin Imam Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi dalam kitab Beliau yang diberi nama Al-Wasaail Fi Syarhi Asy-Syamaail berkata : »Tiada dari suatu rumah atau mesjid atau perkemahan yang dibacakan padanya Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kecuali mengelilingi rumah, mesjid dan kemah tersebut oleh malaikat, dan malaikat meminta ampunan dosa terhadap penghuni tempat tersebut, dan Allah meliputi mereka dengan rahmat dan keredhaan-Nya. Dan adapun Yang Dikelilingi Dengan Cahaya yakni Jibril, Mikail, Israfil dan ‘Izrail ‘alaihimussalam meminta ampunan dosa terhadap orang-orang yang menjadi penyebab bagi pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam«. Dan Beliau juga berkata : »Tiada dari seorang Islam yang dibacakan pada rumahnya Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat kemarau, wabak, kebakaran, karam, penyakit, bala, murka, dengki, mata yang jahat dan pencuri dari ahli rumah tersebut. Jika orang tersebut meninggal dunia niscaya Allah memudahkan baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, dan adalah tempat duduknya pada tempat yang benar disisi Tuhan yang maha memiliki lagi kuasa. Barangsiapa yang berkehendak membesarkan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam niscaya cukuplah baginya ini ketentuan. Dan barangsiapa yang tiada disisinya membesarkan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam walaupun dipenuhkan pujian baginya didunia ini niscaya tiada bergerak hatinya untuk mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam«
Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua bahagian dari orang-orang membesarkan (mengagungkan) Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang yang mengenal keagungannya. Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua bahagian dari orang-orang yang khusus dari orang yang khusus yang mencintai Beliau dan para pengikutnya. Terimalah Wahai Pemilik Semesta Alam.
Dan Rahmat Allah kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta shahabatnya sekalian hingga hari kiamat.
(Dinukilkan dari kitab : Nikmat Yang Besar Atas Alam Pada Kelahiran Penghulu Keturunan Adam – karangan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i)
Penterjemah : Tgk. Kasman ‘Arifa

AMALAN UNTUK MERAIH AMAN DARI RASA DI CABUTNYA IMAN

Sumber : Kitab I’anah Ath-Thalibin
Telah menyebutkan oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya’rani Asy-Syafi’i y  dalam kitabnya yang dinamakan dengan “Ad-Dilalah ‘Ala Allah U” dari pada Sayyidina Abi ‘Abbas al-Khidhir dari pada Nabi Muhammad ‘Alaihi Wa ‘Ala Saairil Ambiya’ Wal Mursalin Salam, “Bahwa sungguh Khidhir berkata: Aku telah bertanya kepada 1.024 orang Nabi dari pada mengamalkan sesuatu yang menjadikan seorang hamba aman dari dicabutkan iman, maka tidak seorang pun dari Nabi tersebut menjawabnya, sehingga aku berhimpun bersama dengan Nabi Muhammad e, maka aku bertanya tentang amalan tersebut kepada Beliau? Maka Beliau berkata ; sehingga aku bertanya kepada malaikat Jibril. Lalu Nabi Muhammad bertanya kepada malaikat Jibril, maka Jibril menjawab : sehingga aku bertanya kepada Allah U. Lalu Jibril bertanya kepada Allah U, maka firman Allah U :
“Barang Siapa Yang Membiasakan Diri Membaca;
اَللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ (البقرة: 255)
dan dilanjutkan membaca;
آَمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ، كُلٌّ آَمَنَ بِاللهِ وَمَلَآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ، وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ، رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ (البقرة : 285-286)
dan dilanjutkan membaca;
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَآئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ (18) إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ، (آل عمران : 18-19)
dan dilanjutkan membaca;
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ، تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ، وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ، وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (26) تُوْلِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ، وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ، وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ، وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ، (آل عمران : 26 – 27)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) (الإخلاص : 1-4)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ(1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ(2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ(3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ(4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ(5) (الفلق : 1-5)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ(1) مَلِكِ النَّاسِ(2) إِلَهِ النَّاسِ(3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ(4) الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ(5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ(6) (الناس : 1-6)
dan dilanjutkan membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ(3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ(4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ(5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ(6) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ(7) (الفاتحة : 1-7)
Niscaya Aman Ia Dari Dicabutnya Iman.

Wednesday, 26 February 2014

FAEDAH KALIMAH لااله الا الله محمد رسول الله

 FAEDAH KALIMAH لااله الا الله محمد رسول الله
Jumlah huruf kalimah syahadat terdiri dari dua puluh empat huruf {24} huruf, dan sekalian huruf nya itu hurfiyah yakni dibuatkan dengan huruf yang tiada bertitik yang mengisyarahkan kepada barangsiapa mengata dengan dua kalimah syahadat itu dengan ikhlas hatinya, dan barang siapa mengata dengan dua kalimah syahadat bahwasanya suci hatinya dari pada tiap-tiap barang yang lain dari pada Allah.
Dan lagi dua kalimah syahat dua puluh empat huruf [24] huruf yang faedah nya yaitu malam dan siang itu 24 sa`ah maka tiap-tiap satu huruf itu menutupi ia akan dausa tiap-tiap satu sa`ah.
Dan lagi dua kalimah syahadat itu 7 kalimat, yang faedah nya ialah karena maksiat itu tiada sunyi ia melainkan datang dari anggota yang 7.
1. Dari pada tangan kita
2. Dari pada mata kita
3. Dari pada kaki kita
4. Dari pada lidah kita
5. Dari pada perut kita
6. Dari pada telinga kita
7. Dari pada kemaluan kita
Maka dari tiap-tiap satu dari pada yang tujuh kalimah itu menutupi ia akan maksiat yang satu anggota yang tujuh itu.
Dan di isyaratkan pula 7 kalimah itu kepada 7 pintu neraka jahannam dan terkunci 7 ketujuhnya dan tertutup sekalian pintu neraka yang tujuh itu bagi orang yang mengata dua kalimah syahadat tersebut. Dan barangsiapa mengata dua kalimah syahadat daripada yang tujuh itu maka ditutup oleh Allah ta`ala satu pintu neraka jahannam dengan karunia Allah ta`ala, inilah perkataan ulama.

 Penulis: raja atjeh